Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Juli 2009
KOSONG
Bismillahirrahmannirrohiim.............
Mengapa aku selalu mencarinya ke lain tempat,
aku selalu mencari uang, mencari kekayaan, mencari wanita cantik, mencari ketenangan.
ketempat yang seharusnya tidak aku datangi.
Mengapa aku selalu bersusah payah memuatar otak, peras keringat banting tulang, tapi yang aku dapatkan tidak sesuai yang aku harapkan.
Semakin aku mencari semakin aku jauh, semakin aku kosong tak berwarna.
Bukankah Dia itu maha kaya, Maha Welas Asih, Maha Gagah yang maha memiliki ketampanan dan yang memiliki kecantikan bidadari yang ada di surga sekalipun?
Yang memiliki tempat yang palig tenang, dan paling damai diantara ketenangan dan kedamaian itu?
Aku harus kembali, aku tidak mau terus berjalan tetapi semakin aku menjauh.
Aku ingin mendekat dan semakin dekat.
Aku ingin kedimensi lain, tanpa batas ruang dan waktu.
Melayang, merentangkan tangan dengan memejamkan mata. Menikmati perasaan damai dan ketenangan. Tanpa beban sebutir debupun yang melekat di sukmaku.
Aku lepas, terbang melayang. Meninggalkan Bumi kecilku.
Kamis, 25 September 2008
Bahtera
Selasa, 18 Maret 2008
HARI BARU
12 Februari 2008
Senja pagi menyibak cakrawala yang menghitam, bersulamkan kabut hitam yang melegam membungkus semua mimpi manusia yang insani. Sucinya embun pagi yang di belai sang surya alam raya. Berkilau gemercakan warna keemasan memberi warna pada jiwa-jiwa yang rapuh. Memakan alam sadar dari jati diri masing-masing insan yang kelam, di setiap jejak-jejak kaki yang dia tinggalkan semasa dia berpijak diatas punggung ibunda bumi. Yang selalu merintih sedih tak ingin dirinya diinjak dengan meninggalkan bekas orang-orang munafik. Setiap saat akan menikam jantung sahabat karibnya sendiri.
Perjuangan itu tak pernah habis. Dan api semangat pengorbanan akan selalu tetap berkobar sampai akhir zaman di bangkitkan kembali. Bergulirnya waktu, mempertebal semangat keyakinan yang tak pernah putus. Membuahkan surga dermaga cinta yang mengalirkan kedamain hidup di dua alam setiap hati yang memilikinya. Jiwa yang luhur itu akan tetap menghuni relung-relung jiwa insan yang mempunyai dua sayap di punggungnya.
Roh kudus akan selalu mengaping di setiap pembaringan cinta. Saat terlelap dalam kegundahan dan lelapnya tidur. Selalu setia menemani tiap-tiap hati yang mempunyai cahaya. Walau cahaya itu redup tak seterang si raja siang matahari. Takkan kemana walau badai hinaan dan cacian dari mulut-mulut yang berbau anjing. Yang menggonggong melentingkan suara surga yang berbuahkan kejahanaman neraka.
Teruskanlah untuk hidup abadi dengan penuh kebahagiaan yang tak terbandingkan. Jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Bangunlah dan bangkitlah dari kerangkeng hidup yang membelenggu setiap hati dan fikiran. Hembuskanlah nafas yang dingin membekukan jahanam-jahanam angkara murka yang menganga di depan mata. Langkahkanlah kakai walau terasa berat, karena itu modal utama yang pertama.
Sohihkanlah setiap kata-kata sebagai penuntun waktu nun jauh disana. Di depan mata akan ada tangan yang melambai. Kulitnya yang sehalus sutra dengan jemarinya yang lentik nan indah menawan. Meraih dan mengangkat setiap tubuh yang penuh dengan peluh yang berbau wangi, gambaran perjuangan anak manusia untuk meraih mimpi yang tak pernah akan berakhir.
Senin, 04 Februari 2008
Rabu, 23 Januari 2008
PELABUHAN
HP ku berdering. Kira-kira jam 9 malam waktu itu aku masih di kantor menemani kerjaan yang harus di selesaikan waktu itu juga. Memang hari-hari yang aku jalani saat itu terasa berat dan membingungkan, selalu bikin stres dan memang beban bagiku. Sepertinya aku mengalami hal yang dalam hidupku belum pernah aku rasakan.
Telepon kembali berdering. Masih di kantor? suara seorang wanita yang kesedihan. Ya, aku masih lama dan ga bisa ngantar. Bagaimana kalo cuma kedepan saja. Udah ga usah ga papa, sahutnya. Akupun melanjutkan membantu pekerjaan yang memang harus selesai saat itu juga. Waktu saat itu terasa begitu cepat, sementara kerjaan terasa tak pernah habis-habis.
Nada HP ku terdengar kembali. Kamu tega ya aku kan perempuan, malam-malam lagi. Kamu harus tanggung jawab kalau terjadi apa-apa sama aku. Bingung. Bingung sekali karena bukan hanya kerjaan yang menghadangku, tapi dengan berbagai hal dan berbagai alasan yang membuat aku ga bisa ngantar dia.
Akhirnya aku berpikir keras dan kuputuskan untuk ngantar dia. Ijinpun aku minta untuk pulang duluan. Tunggu aku, kataku. Akhirnya aku ketemu di sebuah putaran bus, menunggu beberapa lama dan akhirnya kami naik menuju jurusan Pelabuhan merak kurang lebih jam 10an malam.
Berdua kami lalui jalan-jalan yang terbentang di hadapan kami. Aku lihat cahaya lampu mercury di sepanjang jalan, namun aku rasakan redup cahayanya terhalang oleh gelapnya malam. Seperti otakku yang aku rasakan ruwet dan hatiku yang penuh dengan ketakutan, kekesalan, kekecewaan, penyesalan dan beribu-ribu pertanyaan yang harus aku jawab sendiri.
Tujuan kami akhirnya sampai jam 2an di sebuah pelabuhan tempat orang-orang berlabuh. Kami istirahat sejenak untuk melepaskan kepenatan yang menerpa kami berdua. Aku tak tau apa yang ada di dalam pikirannya. Dia juga ga tau apa yang ada di dalam pikiranku. Yang aku tau dia harus secepatnya datang ke kampung halaman untuk menemui orang tuanya.
Kurang lebih jam 3an kami memutuskan untuk memebeli karcis, yang hanya satu sja. Anter sampe ke rumah dong!. Pintanya. Ga bisa, jawabku. Bener. Ya bener, jawabku kembali. Aku antar dia menuju kapal, hanya sampailuar samping pintu kapal, ya hanya smpai luar saja. Selamat jalan, hati-hati. Udah kamu pulang aja ga usah nungguin aku, katanya. Yang memang kapal pada saat itu masih menunggu penumpang yang lain. Ya, jawabku. Tapi aku putuskan untuk menunggu melihat keberangkattannya. Aku melihat dia masuk dan duduk dekat jendela agar bis melihatku yang masih menungguinya.
Lama memang aku raskan menunggu kapal berangkat. Aku sudah ga bisa berpikir lagi. Terasa ga ada lagi ruang dalam otakku untuk menyimpan sedikit saja memory. Aku lihat dia melambaikan tangan seakan ingin memelukku namun terhalang jendela kapal. Yah.. yang akhirnya yang dia peluk hanya bayanganku saja. Aku rasakan begitu sedih dan terharu. Rasanya aku juga ingin memeluknya erat-erat dan takkan aku lepaskan karena ga mau kehilangan dia.
Lama-lama dia keluar dan mendekatiku. Sudah pulang saja, masih mikirin apa sih. dengan berat hati aku menjawab. Ya sudah aku pulang yah! Kamu hati-hati di jalan, sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu. Setapak demi setapak aku menjauhinya. Lambaian tangannya aku balas dengan dada yang sesak menahan air mata yang akan keluar mendahului aku keluar dari pelabuhan. Aku laki-laki ga boleh nangis Tekadku. Dari jauh aku masih melihatnya menatapku dengan berbagai pertanyaan dan berbagai perasaan yang ada di hatinya. Aku rasakan betapa pedih dan perihnya hati ini. Dunia memang kejam. Berat sekali langkah ini untuk menjauhinya.
Walau terasa berat aku terus berlalu meninggalkannya sambil ku balas lambaian tangannya. Tak terasa air mata sudah membasahi pipi. Menjadi saksi betapa beratnya aku berpisah dengannya. Menjadi saksi hidup yang abadi, yang di temani sepoy angin yang menerpa wajahku. Semoga Kau selalu di berikan kebahagiaan oleh yang kuasa. Dan yang harus kamu tau aku selalu memikirkanmu dan teringat akan kenangan indah bersamamu. berbahagialah kamu untuk selamanya. Sampai kamu menuju kehidupan yang abadi. Bahagialah. Bahagialah kamu hai wanita yang pernah mengisi ruang hati dan hidupku.
Jumat, 28 Desember 2007
MIMPI ITU
Apa kabarmu "H" Tabahlah "N"
Aku yakin semua orang punya impian. Salah satunya mungkin pasangan hidup. Begitu juga aku yang setelah sekian lama memendam perasaan yang begitu dalam dan begitu lama. Dari awal aku kenal dia dan sampai sekarang kurang lebih 7 tahun aku masih merasakan itu. Rasa rindu, kangen, kehangatan, kedamaian dan ketenangan hidup ini.
Dialah sosok impian jiwaku selama dalam kehidupanku. Entah aku ini sudah gila atau apa. Kayaknya ga ada lagi wanita selain dia. Ronanya begitu mempesona, wanginya menebarkan kehangatan yang abadi yang tak pernah padam di makan zaman. Tertawa dan kata-katanya berhembuskan angin sepoi pagi hari. Semua kata-kata yang terindah tidak akan sanggup mewakili akan keindahan wujudnya.
Dia tau bahwa dialah sosok impian hidupku. Dia tahu pula bahwa aku suka dia sampai kapanpun. Semua cara telah aku lakukan ( kecuali ke dukun, no way ). Syair, puisi bahkan lagu cinta aku ciptakan dan aku nyanyikan untk dia untuk impian hidupku. Entah sudah berapa kali aku nembak dia mungkin ratusan bahkan ribuan ( kaya iklan Tango ) kali. Tapi dia tetap tidak bergeming untuk tetap menolak aku. Walaupun dengan sehalus apapun kata penolakkan itu tetap saja terasa menyayat dan dunia ini gelap rasanya. Ga ada ruang untuk bernapas, menyesakan dada dan sebuah batu yang amat besar mengganjal di dadaku sampai aku tak kuat memangkunya. Terakhir kali aku menghubungi dia, apa kabarmu H....., dia bilang mau menikah dan memohon maaf atas semua kesalahan yang dia perbuat ( aku juga minta maaf ya... ) dan dia juga memohon agar aku melupakan dia untuk selamanya. Dia juga meyakinkan aku bahwa aku bisa mendapatkan wanita yang lebih dari dia.
Tunggu undanganku katanya. Entah kenapa dunia ini menjadi padang pasir dan tak ada lagi kehidupan. Tapi aku tahu di berbohong karena sampai saat ini aku tak pernah dapat undangan dan kabar dia menikah baik secara langsung atau melalui teman-teman terdekatnya. Mungkin agar aku ga terus sakit hati di saat aku teringatkan dia. Aku tahu dia itu teramat baik. Semakin di berbuat seperti itu semakin besar pula hati ini ingin memilikinya.
Sudahlah, aku mencoba untuk melupakannya dengan wanita lain yang pasti berbeda sekali dengan dia. Tapi aku harus menerima semua kelebihan dan kekurangan dia ( ya iya lah.. ) walau terasa hambar pada awalnya. Namun aku harus setia, menyimpan kasih dan perhatian sama dia. Sekian lama aku bersamanya, pasti ada suka dan duka dalam perjalanan cinta kami. Kami saling menerima dan berbalas sayang dalam mengarungi kehidupan berdua. Segudang rencana telah kami persiapkan untuk masa depan kami.
Belum tuntas perasaan sedihku atas kejadian lalu, kini hujaman belati bertambah dalam menusuk ke jantungku. Dia mau di jodohkan sama laki-laki lain yang mungkin lebih dari aku. Bingung aku. Benang kusut yang ada di otakku yang ribuan ujungnya bertalikan jarum yang menusuk kesemua urat sarafku. Mendidih darahku bergolak yang panasnya melebihi panas matahari. Akhirnya dia nuntut agar aku cepat menikahinya dan meyakinkan Ortunya bahwa aku memang sungguh-sungguh dan tulus mencintai dia. Tapi belum aku lakukan. Karena aku belum siap. Karena menurutku pernikahan itu tidak hanya di bangun atas dasar cinta, tapi di tunjang oleh keadaan ekonomi. Yang utama ridlo orang tua. Pengabdian laki-laki itu seumur hidup, tapi kalau seorang wanita pengabdian ke orang tua sebatas dia punya suami. Bingung....... bener-bener bingung euy... kedah kumaha atuh?! Tapi aku yakin Allah pasti memberikan yang terbaik buat kami berdua, tapi yang bikin aku sebel dia ga sadar akan hal itu ( belum kale ). Walau akhirnya aku harus berpisah aku Ikhlas, mungkin ini jalan hidupku yang harus kandas di tengah jalan. Dan semoga Allah memberikan kebahagiaan dan kesabaran untuk dia.
Apa yang terjadi padaku aku ga peduli asal jangan sampai terjadi apa2 sama dia. Sodaranya juga menyangka bahwa aku ini hanya maen-maen. Padahal bukan itu, bukan. Aku hanya perlu waktu. Aku juga ga mau kehilangan dia. Terlalu banyak kenangan yang membekas di dada, yang akan tersimpan erat di hati dan takkan lepas sampai kapanpun. Sedih memang kalo inget kesana. Bergetar hatiku rasanya ingin ku jatuhkan tetesan air yang ada di mataku ini. Tapi aku hanya mampu bersimpuh dan bersujud di hadapan yang kuasa. Kan kupeluk erat jiwanya, ku belai dengan rasa kasih sayang yang terdalam ikhlas jauh dari hati yang paling dalam, aku tumpahkan ke pangkuanmu. Sambil aku berucap dengan kata-kata manusia yang manusiawi jauh dari luruh hati "maafkan aku yang tak berdaya ini", maafkan atas segala kelemahanku.
Mungkin aku laki-laki yang tidak berguna dan tak layak untuk di maafkan. N,.....jauuuuuuuuuh di lubuk hatiku yang paling dalam aku ga mau kehilanganmu, apa lagi sampai aku meninggalkanmu. Bukankah itu yang selalu kau ucapkan padaku. Aku selalu terdengar kata-katamu itu N. Itu akan terjadi bila ga terjadi hal yang seperti ini. Tapi janji tinggal janji, kenangan tinggal kenangan. Kita harus Ikhlas atas takdir yang kuasa karena itu yang terbaik dari yang terbaik buat kita. Semoga kita akan bersama di akhirat nanti. Berdua bergandengan tangan menuju puncak kebahagiaan yang terbahagia nan abadi. Tabahkan hatimu N kasih sayang dan kesetiaanmu tak pernah aku ragukan.
Langganan:
Postingan (Atom)