Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Desember 2007

TUTUP SUDAH

Ku tutup semua kesedihan dan kepedihan di hari ini, seiring waktu yang telah berlalu di belakangku. Noda dan dosa yang telah aku perbuat, jejak-jejak yang penuh dusta dan kebohongan kan ku basuh dengan air dari nirwana kemegahan surgawi. Selamat tinggal masa lalu yang penuh sesak dan kabut hitam yang menyelimuti. Tersibak membelah cakrawala menyongsong bagaskara manjer kawuryan, yang mengibarkan sang panji dan rontek-rontek kamulyan yang abadi. Ku sambut masa depan yang lebih indah. Kupersiapkan diri untuk menghadapi tantangan terbesar dan terberat yang akan menghadangku di depan sana. Gelombang pasti akan lebih besar yang datang menimpaku kelak. Aku akan tersenyum lebar melihat malam yang di penuhi kartika-kartika yang berkedip dan sasadara yang cahayanya menghujani menghiasi dadaku. Aku akan berkidung tanpa ragu-ragu. Aku akan bernyanyi dengan hati. Mengiringi tarian jiwa untuk melangkahkan kaki melewati garis batas sang kala yang telah di pastikan harus berlalau. Menggilas, mencengkram, meremukan dan mencabik-cabik mengoyak jati diri tanpa memperdulikan yang tertinggal. Selamat datang masa yang baru selamat datang hari yang cerah, kusambut kau dengan busungan dadaku. Aku tidak akan lari di hadapanmu dan tidak akan bersembunyi di belakangmu. Tanganku telah mengepal untuk meninju congkak dan sombongnya dirimu.

Senin, 24 Desember 2007

Aku Yang Bertanya

?.......... Mengapa Cahaya Bersembunyi di Balik Bayangan Padahal Dia Sendiri yang Menjadikan Bayangan Itu Mengapa harus ada malam Walau akhirnya siang akan datang juga Mengapa harus ada peradaban lain Walau akhirnya akan musnah Mengapa harus ada pertemuan Walau akhirnya akan berpisah

Minggu, 23 Desember 2007

WANITA

Kusapa wahai kau Wanita Dalam nyanyian birunya Cinta Saat Hati erat terjerat Rindunya gundah Perasaanku Akan hadirmu disini Kau yakinkan padaku Kaulah keindahan itu Kau yakinkan juga Tak ada yang seperti apa yang telah terlihat Ku kenal kau dalam mimpi terindahku Sebagai rona penggoda hati Yang selalu melambai mengajakku Menyentuh rahasia di balik tubuhmu Kau tercipta Membawa beribu pesona Di dalam kelembutan jingga Jiwa Kaupun menjadi Mawar yang berduri Menodai beningnya Hati Rix, Thx 2 u'r Inspiration

Senin, 26 November 2007

SECERCAH HARAPAN

Harapan Itu Ada Telah tertulis Syair seindah Puisi. Telah terangkai Kata seindah Bahasa. Tapi semuanya bisu dan membatu. Diam. Gelap. Hanya redup cahaya yang tersenyum memancarkan rona kehidupan. Dengan indah Dia berkidung. Menggoda jingga di peraduan kesejukan pagi yang mampu meredakan gejolak jiwa yang mengapi, membadai, yang gemuruhnya mampu menghancurkan karang yang meninggi. Buihpun menutupi segala keindahan alam jiwa. Sepoi angin meniup pohon bergoyang. Meliuk-liuk menari tentang kemegahan. Gelegar halilintar, gersang dan tandusnya tanah menjadi hamparan rumput nan hijau. Berbunga dengan sari-sari kebeningan hati. Bintang-bintang berkumpul membawa sukma terbang kelangit, menuju rembulan yang tersenyum menatap. Kisah malam menyanyikan kidung, terhanyut dalam ketenangan bathin. Keheningan malam memeluk dengan hangat dan mesra. Kekosongan Jiwa Menjadi cahaya berkilau di atas cahaya kehidupan. Cahaya yang terang di atas cahaya yang tersimpan rahasia hidup. Untuk menuntun di hari mendatang.

Selasa, 20 November 2007

SANG KALA

Sang Kala Menyeringai, menyibak takdir gelombang yang memendar di cakrawala. Menghujam taring ke langit merah, merekah menebar aroma wewangian yang menusuk langsung ke jantung. Menggilas semua rona warna kesuburan duniawi. Jiwa yang bergetar gemuruh menguak misteri yang berselimutkan kabut menyutra dari sulaman sang dewi-dewi malam. Terhenjat mengibarkan panji-panji kehidupan. Sang surya meratap kepedihan menyaksikan lukisan keabadian yang tidak abadi. Namun terlahir dari kesucian yang sejati. Mengalir ke sukma yang perasa daintara sekawanan kemurkaan yang selalu mengaping daiantara dentuman-dentuman neraka yang berkobar. Jilatan ujung pedang menjadi teman sejati diantara perjuangan yang tak pernah terhenti, yang tak pernah menduduki singgasananya. Sang durjana berputar-putar mengerikan melengkingkan kepedihan yang di tebarkan. Berbuah bibit-bibit kehancuran mengalirkan air mata darah, di telan, dibasuhkan ke wajah-wajah yang penuh amarah dan dendam menyibak tabir sang penguasa. Sesak dada mengombang-ambing bahtera hidup yang sulit di cerna semua peradaban. Menjadi rahasia alam maya di antara ribuan bintang-bintang yang bertaburan. Sejauh angan meratap hari esok yang lebih cerah. Diantara rerimbunan pohon bambu. Menjulang ke atas peradaban cahaya. Cahaya atas cahaya dan kembali ke wujudnya semula. Sebagai Manunggaling Sajati.