Ku tutup semua kesedihan dan kepedihan di hari ini, seiring waktu yang telah berlalu di belakangku. Noda dan dosa yang telah aku perbuat, jejak-jejak yang penuh dusta dan kebohongan kan ku basuh dengan air dari nirwana kemegahan surgawi.
Selamat tinggal masa lalu yang penuh sesak dan kabut hitam yang menyelimuti. Tersibak membelah cakrawala menyongsong bagaskara manjer kawuryan, yang mengibarkan sang panji dan rontek-rontek kamulyan yang abadi. Ku sambut masa depan yang lebih indah. Kupersiapkan diri untuk menghadapi tantangan terbesar dan terberat yang akan menghadangku di depan sana.
Gelombang pasti akan lebih besar yang datang menimpaku kelak. Aku akan tersenyum lebar melihat malam yang di penuhi kartika-kartika yang berkedip dan sasadara yang cahayanya menghujani menghiasi dadaku. Aku akan berkidung tanpa ragu-ragu. Aku akan bernyanyi dengan hati. Mengiringi tarian jiwa untuk melangkahkan kaki melewati garis batas sang kala yang telah di pastikan harus berlalau. Menggilas, mencengkram, meremukan dan mencabik-cabik mengoyak jati diri tanpa memperdulikan yang tertinggal.
Selamat datang masa yang baru selamat datang hari yang cerah, kusambut kau dengan busungan dadaku. Aku tidak akan lari di hadapanmu dan tidak akan bersembunyi di belakangmu. Tanganku telah mengepal untuk meninju congkak dan sombongnya dirimu.
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Senin, 31 Desember 2007
Senin, 24 Desember 2007
Aku Yang Bertanya
?..........
Mengapa Cahaya Bersembunyi di Balik Bayangan
Padahal Dia Sendiri yang Menjadikan Bayangan Itu
Mengapa harus ada malam
Walau akhirnya siang akan datang juga
Mengapa harus ada peradaban lain
Walau akhirnya akan musnah
Mengapa harus ada pertemuan
Walau akhirnya akan berpisah
Minggu, 23 Desember 2007
WANITA
Kusapa wahai kau Wanita
Dalam nyanyian birunya Cinta
Saat Hati erat terjerat
Rindunya gundah Perasaanku
Akan hadirmu disini
Kau yakinkan padaku
Kaulah keindahan itu
Kau yakinkan juga
Tak ada yang seperti apa yang telah terlihat
Ku kenal kau dalam mimpi terindahku
Sebagai rona penggoda hati
Yang selalu melambai mengajakku
Menyentuh rahasia di balik tubuhmu
Kau tercipta Membawa beribu pesona
Di dalam kelembutan jingga Jiwa
Kaupun menjadi Mawar yang berduri
Menodai beningnya Hati
Rix, Thx 2 u'r Inspiration
Senin, 26 November 2007
SECERCAH HARAPAN
Harapan Itu Ada
Telah tertulis Syair seindah Puisi. Telah terangkai Kata seindah Bahasa. Tapi semuanya bisu dan membatu. Diam. Gelap. Hanya redup cahaya yang tersenyum memancarkan rona kehidupan. Dengan indah Dia berkidung. Menggoda jingga di peraduan kesejukan pagi yang mampu meredakan gejolak jiwa yang mengapi, membadai, yang gemuruhnya mampu menghancurkan karang yang meninggi.
Buihpun menutupi segala keindahan alam jiwa. Sepoi angin meniup pohon bergoyang. Meliuk-liuk menari tentang kemegahan. Gelegar halilintar, gersang dan tandusnya tanah menjadi hamparan rumput nan hijau. Berbunga dengan sari-sari kebeningan hati.
Bintang-bintang berkumpul membawa sukma terbang kelangit, menuju rembulan yang tersenyum menatap. Kisah malam menyanyikan kidung, terhanyut dalam ketenangan bathin. Keheningan malam memeluk dengan hangat dan mesra. Kekosongan Jiwa Menjadi cahaya berkilau di atas cahaya kehidupan. Cahaya yang terang di atas cahaya yang tersimpan rahasia hidup. Untuk menuntun di hari mendatang.
Selasa, 20 November 2007
SANG KALA
Sang Kala
Menyeringai, menyibak takdir gelombang yang memendar di cakrawala. Menghujam taring ke langit merah, merekah menebar aroma wewangian yang menusuk langsung ke jantung. Menggilas semua rona warna kesuburan duniawi. Jiwa yang bergetar gemuruh menguak misteri yang berselimutkan kabut menyutra dari sulaman sang dewi-dewi malam. Terhenjat mengibarkan panji-panji kehidupan.
Sang surya meratap kepedihan menyaksikan lukisan keabadian yang tidak abadi. Namun terlahir dari kesucian yang sejati. Mengalir ke sukma yang perasa daintara sekawanan kemurkaan yang selalu mengaping daiantara dentuman-dentuman neraka yang berkobar. Jilatan ujung pedang menjadi teman sejati diantara perjuangan yang tak pernah terhenti, yang tak pernah menduduki singgasananya.
Sang durjana berputar-putar mengerikan melengkingkan kepedihan yang di tebarkan. Berbuah bibit-bibit kehancuran mengalirkan air mata darah, di telan, dibasuhkan ke wajah-wajah yang penuh amarah dan dendam menyibak tabir sang penguasa. Sesak dada mengombang-ambing bahtera hidup yang sulit di cerna semua peradaban. Menjadi rahasia alam maya di antara ribuan bintang-bintang yang bertaburan. Sejauh angan meratap hari esok yang lebih cerah. Diantara rerimbunan pohon bambu. Menjulang ke atas peradaban cahaya. Cahaya atas cahaya dan kembali ke wujudnya semula. Sebagai Manunggaling Sajati.
Langganan:
Postingan (Atom)