Senin, 11 Juni 2012

WEDUNG 2



Wedhung berkembang menjadi status simbol dalam keraton, ditandai dengan diciptakannya wedhung kecil dengan ukuran kurang dari 25 cm disebut "pasikon". Wedhung kecil "pasikon" ini menggeser fungsi `senjata tebas' menjadi senjata psikhis (sebagai piyandel).

Pasikon pada waktu itu hanya boleh dipakai oleh raja dan para petingginya saja. Maka tidak heran jaman Demak darr era selanjutnya, raja-raja Jawa melengkapi busananya dengan `pasikon' yang mudah dibawa-bawa.

Wedhung mulai disandang oleh Sultan Trenggono (raja Demak Bintoro) diperkirakan pada tahun 1506 M, saat peresmian Masjid Demak yang megah (DR. HJ. de Graaf, "Mosque'). Sehingga para empu keris bergairah lagi, karena budaya keris berbentuk wedhung disandang raja dan masuk istana.

Ketika Adiwidjaya 1581 M, mendapat pengakuan sebagai raja Pajang setelah Demak Bintoro runtuh, para empu keris muncul dan mulai menciptakan keris lagi. Suatu era baru dimana keris lebih disempurnakan dari ciri keris pada jaman sebelumnya. Bahan-bahan besi keris Majapahit yang ditimbun dan tidak dipergunakan mulai dimanfaatkan sehingga seni keris jaman Pajang dinilai lebih indah dibanding keris jaman Majapahit.

Keris yang pada jaman Demak tidak menjadi peng"agung"an budaya kerajaan, tidak banyak dibicarakan pada buku-buku, kecuali hanya ditemukan pada beberapa buku kawruh padhuwungan (R. Tannaya 1938 - Ditulis ulang oleh S. Lumintu), disebutkan : "Tangguh Demak ; pasikutan wingit, angker; Besi basah; Pamormengapung (ngambang)".

Bambang Harsrinuskmo menuliskan bahwa ciri-ciri bentuk kerisjaman Kesultanan Demak, antara lain : "Tangguh Demak : Ganja rata. Gulu meled, sirah cecak : kecil dan menguncup. Bahan pamornya bagus. Besi agak kuning kurang bercahaya (guwaya). Sosok bilah agak membungkuk. Tikel alis pendek. Sogokan panjang. Kembang kacang kecil. Jalen kecil. Lambe gajah agak besar dan panjang".'A'

Catatan tambahan
Wedhung merupakan senjata tebas yang telah ada sejak masuknya pedagang-pedagang dari Asia Timur dan Tenggara. Pada akhir-akhir ini penemuan senjata berbentuk serupa wedhung di tepi sungai Brantas - Jawa Timur, diperkirakan peninggalan jaman kerajaan Singhasari (abad 12 M), serta beberapa penemuan di daerah Cirebon - Jawa Barat, kemungkinan buatan jaman kerajaan Pasundan Hindu-Budha (abad 10 M). Maka sebenarnya dapat dilakukan penelitian perkiraan bentuk awal wedhung dan tahap perkembangannya.

Pada jaman Demak Bintoro, seperti telah diutarakan wedhung mengalami perkembangannya dari fungsi senjata tebas - penambahan aspek seni - kemudian menjadi senjata spiritual dan symbol status.

Pada jaman Mataram, wedhung dihiasi pamor yang variatip. Perkembangan seni pada wedhung terlihat adanya penambahan kaligrafi Islam di bilahnya dengan teknik menempelkan tatahan rumit terbuat dari emas.

Budaya wedhung mengalami puncaknya pada jaman keraton Paku Buwana (Kartasura - 17 M). Wedhung banyak dibuat dan dihadiahkan kepada petinggi-petinggi istana dalam wilayah kekuasaannya.

Bahkan pada jaman Sinuhun Paku Buwana X (18 M) wedhung sempat dipakai sebagai bahan ujian untuk para empu yang akan diresmikan oleh raja menjadi empu andalan keraton sebagai simbol janji kesetiaannya. Pada masa itu empu mas Ngabei Japan juga membuat wedung yang indah. (The World of The Javanese Keris; Garreftand8ronwen Solyom).

Wedhung menjadi bagian dari budaya keris yang penting karena oleh raja Paku Buwana X, wedhung (pasikon) dianggap sebagai karya agung yang spesifik, antara lain di dalam buku Koninklijke Geschenken Uit Indonesie, oleh Rita Wassing-Visser; disebutkan :

"Wedhung, senjata yang disandang di pinggang kiri depan oleh putra raja dan petinggi istana. Bentuk pegangannya bersegi lima, warangka dari kayu berwarna lebih muda dengan 4 lingkaran (ring) terbuat dari emas, dihiasi ornamen sumping (palmet dari emas) dengan initial PB X Disisi belakang ada penjepit panjang berbentuk tangkai seperti sendok sepatu dari tanduk kerbau. Wedhung pernah dihadiahkan kepada rafu Wilhelmina oleh Sri Susuhunan Paku Buwana X, saaf penobatannya padatahun 1898...". ( Wedhung biasa (untuk rakyat) juga dipakai oleh para abdi dalem dalam upacara resmi, sebagai ungkapan pengabdian kepada istana. Bahkan disakralkan menjadi simbol pengabdian manusia kepada Tuhan Yang Kuasa.

Teknik membuat wedhung jauh berbeda dengan keris, karena wedhung memiliki simpul-simpul keseimbangan yang harus dipelajari dengan seksama sehingga tantingannya ringan. Teknik pelipatan besi pada wedhung tidak banyak variasi, kecuali tumpukan lipatan besi dan bahan meteor berpola `mlumah'.

Kesimpulan
Wedhung adalah bentuk senjata yang memiliki nilai budaya, seperti keris. Awalnya sebagai senjata tebas kemudian bergeser sebagai senjata spiritual yang memiliki fungsi lain yaitu merupakan pelengkap berbusana.

Ciri-ciri khas bentuk keris pada jaman Demak merupakan misteri, namun wedhung dan pasikon (wedhung kecil raja) yang bukan berbentuk keris ternyata tetap mengisi budaya perkerisan, sebagai mata rantai budaya yang tidak terpufus.

WEDUNG



WEDUNG SEBAGAI PUSAKA

Ketika Majapahit mulai rapuh (1480 M), Demak Bintoro mulai memiliki pengaruh di wilayah pesisir utara Jawa seperti Jepara, Kudus, Juwana, Pati dan lain lainnya. Demak merubah tatanan kerajaan Hindu-Budha menjadi bernafas Islam. Wali sembilan (Wali Songo) dalam upaya meng'islam'kan Jawa menggunakan cara dengan bersikap toleransi terhadap budaya masyarakat lingkungannya. Muncul nama Sunan Kalijaga sebagai wali yang pandai menggubah kesenian daerah dan menciptakan hiburan rakyat dan permainan anak-anak dalam rangka siar Islam... ". (Kalijaga seniman Jawa; Makalah, GedungStovia-Jakarta, H. Deddylskandar 1988).

Catatan lain menyatakan bahwa Majapahit tidak runtuh oleh serangan dari kerajaan Demak Bintoro, melainkan mengalami pengeroposan dari dalam pemerintahannya. Ada beberapa sebab yang membuat Majapahit goyah, antara lain : Seringnya terjadi bencana alam, Canggu sebagai pelabuhan terbesar Majapahit, rusak fatal diterpa bencana alam (James Nash; 1932). Perang Paregreg merupakan perebutan kekuasaan yang berakibat kondisi ekonomi kacau, jurang kaya miskin melebar dan sering terjadi kerusuhan anarkis karena meruncingnya perbedaan paham kepercayaan. (DR. HJ. de Graaf; Java in the 14th Century, 1960).

Berita dari China, menyatakan bahwa roda pemerintahan Majapahit (Raja Girindrawardhana 1486 - 1527 M) sudah dibawah pengaruh Kesultanan Demak Bintoro. Paham-paham kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat membuat pertikaian tak kunjung padam. Kitab Salokantara karya Raden Patah (Djiemboen) diluncurkan sebagai panduan fikih Islam (ajaran akhlak Islam). Berita dari China itu mengatakan : Pangeran Djiemboen dari Demak menyebarkan ajaran kebaikan (Islam) dalam pepatah, berbunyi Siuw Chen Chung Chok. Arti Siuw = memperbaiki, Shen = sendi dan Chung Chok adalah agama atau ajaran yang menitik beratkan pada perbaikan akhlak pada diri manusia.

Majapahit disibukkan oleh pertikaian kepemimpinan, bencana alam, kelaparan dan wabah penyakit (pageblug). Sementara itu, Demak semakin perkasa mengadakan pembangunan dan memperkuat pertahanan yang dirancang untuk menangkal ancaman Portugis yang mulai mendekati gerbang Jawa. Banyak ahli mesiu dari Yunan Islam (Kunming-Tiongkok) didatangkan atas rekomendasi Aryo Damar seorang ahli mesiu, ayah tiri Raden Patah Djiemboen dan ayah kandung Raden Kusen, keturunan Yunan-Islam, anak angkat kesayangan Hayam Wuruk V.'

Jika situasinya benar demikian, budaya keris pada jaman kerajaan Demak sudah pasti tidak diperhatikan oleh pusat kekuasaan. Raden Patah (Djiemboen) memilih teknologi mesiu dari pada senjata tradisionil.

Namun demikian, budaya keris yang telah mengakar sejak jaman kerajaan-kerajaan sebelumnya sebagai senjata psikhis (keyakinan diri) masih terus berlanjut di dalam masyarakat. Budaya peng'agung'an keris tidak dapat digeser begitu saja. Dengan demikian para wali (Sunan Kalijaga) melakukan akulturasi sebagai langkah penyesuaian. Keris tetap dipakai sebagai atribut busana, bahkan para wali menyandang keris yang diselipkan di jubahnya (disengkelit; bahasa Jawa).

Bentuk warangka keris khas Majapahit dianggap kurang praktis, lalu dirancang dengan design yang baru, sedemikian rupa agar keris mudah "disengkelit" dan dibawa kemana-mana. Warangka rancangan para wali hingga sekarang dikenal dengan istilah "sandang walikat"(=sesuai pakaian wali).

Kerajaan Demak menghapus hegemoni sebelumnya, sehingga keris tidak diangkat sebagai isu penting. Bahkan keris pada masa ini keluar dari budaya sentralistik kekuasaan, keris hanya disandang oleh para wali.

Para wali memegang kendali adat dan budaya. Wali Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang disebut-sebut sebagai pelestari budaya. Keris terkenal yang bernama Kyai Sengkelat pembuatannya diprakarsai oleh Sunan Kalijaga pada masa transisi sebelum kerajaan Majapahit runtuh.

Pada catatan lain, ditemukan bahwa keris pada jaman Demak menjadi tanda waris (warisan). Para kolega wali atau kepercayaannya diberi keris sebagai cindera mata tanda mandat, pembawa pesan, sebagai utusan di pengukuhan status. Keris yang ada (ciptaan jaman sebelumnya) pada jaman Demak bergeser fungsinya sebagai pusaka (= warisan yang dianggap bernilai tinggi).

"......Sebagaimana dituturkan oleh Raffles, Sunan Ampel adalah salah seorang dari sembilan wali penyebar agarria Islam di Jawa, beberapa hari sebelum meninggal dunia memberikan sebilah keris kepada Sunan Giri. Sunan Ampel berpesan agar keris itu jangan sampai jatuh ke tangan orang yang tidak baik.... .... ''

Tulisan tersebut diatas merupakan indikasi bahwa keris diterima dilingkungannya, bukan suatu hal yang dianggap musyrik. Dapat dimengerti dari berita S. Raffles itu, bahwa pada waktu itu keris dianggap sebagai pusaka yang memiliki aspek religius yang harus disimpan oleh orang-orang yang sholeh.

Dimana para empu Keris masa itu ?
Pembuatan keris jaman Demak diperkirakan, mungkin tetap berlangsung namun dalam skala kecil sekali dan tidak diprakarsai oleh raja. Ciri-ciri bentuknya diperkirakan tidak berubah jauh dari bentuk karya jaman sebelumnya yaitu gaya keris buatan jaman Majapahit. Para empu yang hidup pada jaman Majapahit, tidak diketahui rimbanya. Hanya ditemukan catatan bahwa Sunan Kalijaga telah mendidik seorang empu keris (pandai besi) bernama Jaka Sura menjadi ulama yang terkenal cerdas, dan diberi gelar empu Supo Warihanom.

Karena pada masa akhir kerajaan Majapahit, dan mulai berdirinya kekuasaan Demak, kekacauan dan ketegangan menghantui rakyat sipil, menyebabkan senjata bernama "wedhung" yang lebih fungsional mulai banyak diproduksi.

Wedhung adalah senjata tajam alat tebas seperti pisau lebar. Kata `wedhung' menurut kamus bahasa Jawa "Bausastra" (S. Prawiroatmodjo; 1957, Penerbit Gunung Agung) artinya senjata seperti pisau raut berukuran besar dan bersarung, termasuk sebagai atribut pakaian kebesaran pegawai istana. Di sebelah selatan sentral kerajaan Demak, hingga sekarang bisa dijumpai desa Wedung, merupakan tempat dimana para empu keris menggarap wedhung.

Wedhung dibuat dengan gusen indah dan ricikan. Kebutuhan seni, merubah wedhung yang sebelumnya berbentuk sederhana dan berfungsi sebagai senjata tebas (situasi kacau pada saat itu) mulai bergeser menjadi benda seni, di "agung" kan seperti pada nilai budaya keris.

Wedhung mulai digarap empu dengan teknik pelipatan besi dan lapisan dari bahan meteor yang disebut pamor.

Motif pamor yang sering ditemukan adalah motif pamor beras utah dan wiji timun. Sebelumnya motif wiji timun dikenal dengan nama `ombak segoro' karena coraknya seperti penggambaran riak gelombang air laut yang susul-menyusul di pantai.

Wedhung berpamor wiji timun hanya boleh dimiliki oleh petinggi-petinggi di pantai utara Jawa pada waktu itu.

Indikasi bahwa wedhung berkembang di pesisir pantai utara Jawa adalah asesori warangkanya yang indah dengan tangkai dari bahan `penyu'. (wedhung yang ditemukan di pesisiran). Pada jaman berikutnya bahan dari penyu diganti dengan tanduk kerbau.

Masyarakat sepanjang pantai utara Cireboh - Gresik, ikut bergerak menjadi pengikut Sunan Giri jika terjadi perlawanan fisik melawan prajurit Girindrawardhana (Majapahit). Mereka bersenjata pedang dan menyelipkan wedhung (bukan keris) pada ikat pinggangnya sebagai identitas prajurit elite pesisiran.

PANDAWA CINARITA

Sebuah Kenang Kenangan Seorang Sahabat

Keris ini saya peroleh ketika hati dan fikiran saya sedang kalut. Saat itu datang ke tempat seorang sahabat dan manghadiahkan sebilah keris ini kepada saya. Menurut beliau keris ini di peroleh dari hasil tarikan di daerah Ambarawa. Nasehat beliau semoga keris ini bisa memberikan manfaat dan sebagai kendaraan untuk mempercepat tujuan hidup. Hanya sebagai alat dan bukan tujuan untuk meminta.











Salam untuk sahabatku, semoga kebaikan menyertai dirimu dan keluargamu.

Jumat, 08 Juni 2012

ADIPATI KARNA

Sepucuk Surat Untuk sang Istri


Beberapa jam sebelum pagi, sebelum gelombang pertempuran meledak lagi di Kurusetra, Karna tepekur sendirian di dalam kemahnya. Istrinya tidur pulas di peraduan. Karna tahu, hidupnya tak lama lagi. Karena itu, ia menulis sepucuk surat kepada Surtikanti istrinya.

“Peramal menujum aku akan tewas dalam perang ini. Tapi jangan dengarkan mereka, Surtikanti. Dengarkanlah aku. Nasib mungkin memihak musuh. Tapi aku akan menghadapi mereka - juga bila harus melalui mati.

“Mati, saat ini, rasanya bukan lagi soalku, Istriku. Mungkin karena alasan perangku lebih besar ketimbang hidup. Atau setidaknya alasan itu adalah alasan kehidupan sendiri: aku berperang untuk mengukuhkan siapa aku. Di pagi nanti, Karna tewas atau Karna menang, keduanya akan menentukan siapa dia. Sebab, siapa sebenarnya aku, Surtikanti, selama ini, selain seorang yang tak jelas kastanya, tak jelas asal-usul, tak jelas kaumnya?

“Jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat. Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya - bukan karena ia telah selesai dirumuskan.

Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku. Bagiku, Surtikanti, Kodrat adalah sesuatu yang tidak ada; dewa-dewa tak pernah menyabdakannya. Telah kuduga itu ketika namaku masih Si Radheya. Dulu.

“Kini bisa kuceritakan kepadamu apa yang terjadi pada Si Radheya, ketika ia berumur 16 tahun: hari itu ia tahu bahwa ibunya bukanlah ibunya yang sebenarnya, dan bapaknya — seorang sais — bukanlah bapaknya yang sebenarnya. Ia anak pungut, Surtikanti.

Ada yang menduga, seorang putri bangsawan tinggi melahirkan bayi yang tak dikehendaki dan membuangnya ke air. Dan itulah aku. Aku menangis ketika semua itu dituturkan padaku oleh wanita yang selama ini kusebut ibuku. Ternyata, aku bukan lagi bagian seasal dari dirinya, betapapun ikhlasnya kasih sayang.

Dan mulai saat itu, aku kembali terbuang, seorang bocah yang hanyut, di sepanjang tepian.

“Lalu kucari ilmu, istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina. Meskipun kukatakan kepada Radha, ibuku, bahwa ilmu tak mengenal kasta, tak memandang harta — dan karena itu di sanalah aku akan bebas — sesungguhnya aku berjusta, juga pada diriku sendiri: diam-diam aku ingin ingkar kepada kelas orang-orang yang mengasihiku. Sebab, ternyata di dunia kita yang menyesakkan ini, Surtikanti, ilmu pun telah jadi lambang tentang mana yang rendah, mana yang tinggi.

“Aku datang berguru kepada Durna, tapi Durna menolakku karena aku bukan ningrat, bukan kesatria. Aku datang kepada Bhargawa, mengaku anak brahmana dan jadi muridnya - tapi kemudian ia mengutukku ketika ia menuduhku anak kesatria, kelas yang dibencinya itu, yang berbohong.

“Memang, setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku tindakan Pangeran Duryudana. Dialah yang mengangkatku jadi penguasa di Angga, istriku, dan dari sanalah aku seakan lahir kembali: kini benar aku bukan anak kasta yang dihinakan. Dan aku meminangmu.

“Ya, aku tahu mengapa Duryudana mengangkatku, ketika para Pandawa menghinaku, di pertandingan memanah di arena Hastina belasan tahun yang lalu itu; mereka menolak melawanku karena bagi mereka, anak sais tak berhak bertanding dengan anak raja.

Duryudana ingin memperlihatkan, di depan rakyat yang menonton, betapa tak adilnya para Pandawa. Dan Putra Mahkota Kurawa itu mungkin juga memperhitungkan aku bisa digunakannya buat menghadap musuhnya yang lima itu.

“Tapi apa pun niat hatinya, tindakannya adil dan kata-katanya benar: ‘Keberanian bisa datang dari siapa saja, karena seorang kesatria ada bukan hanya karena ayahbundanya, tapi toh bisa keluar dari batu gunung yang tak dikenal.

“Rasanya, akulah salah satu batu gunung itu, Surtikanti, yang menerbitkan perciknya sendiri. Inilah kemerdekaanku. Arjuna memilih pihaknya karena darah yang mengalir di tubuhnya, aku memilih pihakku karena kehendakku sendiri. Arjuna berperang untuk sebidang kerajaan yang dulu haknya, aku berperang bukan untuk memperoleh. Maka, jika aku esok mau, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.”

Sampai di situ Karna berhenti; tangannya tergetar. Tapi segera ia mengusap busur panah di sisi duduknya. Kurusetra senyap. Malam mengerang kesakitan. Keesokan harinya, Karna memang gugur di tangan Arjuna, saudara seibunya.

Senin, 21 Mei 2012

SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan



Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik".

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.

Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

Semar barjalan menghadap keatas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat".

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah

- Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
- Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
- Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
- Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
- Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.

Rabu, 16 Mei 2012

KLEWER AGEMAN

Klewer merupakan Jimatan (Ageman) yang diciptakan untuk pengasihan khusus maupun pengasihan umum. Juga dipercaya bagi para pedagang untuk menarik konsumen. Klewer ini diberikan kepada saya dari seorang ibu setengah baya sebagai kenang-kenangan. Berbentuk Sebilah Tombak kecil yang tengahnya berlubang (Yoni) melambangkan wanita dan pegangannya berbentuk (maaf) barangnya Pria (Lingga).









Kamis, 10 Mei 2012

Beragam Mustika

MUSTIKA KERANG BUNTET RAJAH

BATU TAHAN

MUSTIKA BAWANG PUTIH JANTAN



Senin, 19 Juli 2010

Syair Kehidupan. Syair Al Imam Alhafidh Al Musnid Abdullah bin Alwi Alhaddad Shohiburratib

قَدِ اسْتَعَنْتُكَ رَبِّي عَلَى مُدَاوَاةِ قَلْبِى وَحَلِّ عُقْدَةَ كَرْبِي فَانْطُرْإِلَىالْغَمِّ يَنْجَالْ Sungguh aku memohon pertolongan Mu Wahai Tuhanku, tuk mengobati penyakit hatiku, dan melepaskan ikatan ikatan kesulitanku, maka lihatlah dan pandanglah dengan kasih sayang Mu kepada kegelisahan hatiku yang berkobar, يَارَبِّ يَاخَيْرَ كَافِي اُحْلُلْ عَلَيْنَا الْعَوَافِي فَلَيْسَ شَيْء ثَمَّ خَافِِي عَلَيْكَ تَفْصِيْل وَإِجْمَالْ Wahai Tuhanku, Wahai sebaik-baik yang mencukupi hamba-Nya limpahkanlah atas kami kesembuhan-kesembuhan (kesembuhan hati dan jasmani) hingga tidak tersisa sedikitpun, maka atas-Mu lah segala perincian dan ringkasan masalah, يَارَبِّ عَبْدُكَ بِبَابِكَ يَخْشَى أَلِيْمَ عَذَابِكَ وَيَرْتَجِي لِثَوَابِكَ وَغَوْثُ رَحْمَتِكَ هَطَّالْ Wahai Tuhan, hamba Mu tegak dg penuh harap cemas di Gerbang Istana Mu, merisaukan pedihnya siksa, seraya sangat mengharapkan Ganjaran dan Derasnya hujan Rahmat-Mu yang berlimpah, وَقَدْ أَتَاكَ بِعُذْرِهِ وَبِانْكِسَارِهِ وَفَقْرِهِ فاهْزِمْ بِيُسْرِك عُسْرِهِ بِمَحْضِ جُوْدِك وَالإفضالِ Dan hamba Mu telah datang kepada Mu dengan kehinaan dan segala kelemahannya, dan dengan kehancurannya (banyaknya dosa dan penuhnya hati dg sifat tercela) dan dengan kemiskinannya, Maka musnahkanlah segala kesulitannya dengan kemudahan Mu, Demi limpahan kemurahan Mu dan anugrah Mu yang agung, وَامْنُنْ عَلَيْهِ بِتَوْبَةٍ تَغْسِلْهُ مِنْ كُلِّ حَوْبَةٍ وَاعْصِمْهُ مِنْ شَرِّ أَوْبَةٍ لِكُلِّ مَا عَنْهُ قَدْ حَالْ Dan anugerailah kepadanya kemuliaan Taubat dengan siraman yang menyucikannnya dari segala kotoran dosa, Dan lindungilah ia dari keburukan tempat kembali, dari apa yang telah menimpanya dari segala kehinaan, فَأَنْتَ مَوْلَىالْمَوَالِي اَلْمُنْفَرِدُ بِالْكَمَا لِ وَبِالْعُلاَ وَالتَّعَالِي عَلَوْتَ عَنْ ضَرْبِ اْلأَمْثَالْ Maka Engkau adalah Raja dari para Raja yang Tunggal dalam Kesempurnaan, Dan dengan segala Kemuliaan dan keluhuran maka Engkau telah teragungkan dari segala yang dicontohkan atas Mu, جُوْدُكَ وَفَضْلُكَ وَبِرُّكَ يُرْجى وَبَطْشُكَ وَقَهْرُكَ يُخْشَى وَذِكْرُكَ وَشُكْرُكَ لاَزِمُ وَحَمْدُكَ وَاْلإِجْلاَ لْ KemurahanMu, Anugerah Mu dan kasih sayang Mu sangat diharapkan, dan kemurkaan Mu serta kemarahan Mu sangat dirisaukan, dan mengingat Mu dan bersyukur kepada Mu merupakan kewajiban, demikian pula Pujian atas Mu dan Pengagungan atas Mu. يَارَبِّ أَنْتَ نَصِيْرِيْ فَلَقِّنِيْ كُلَّ خَيْرِيْ وَاجْعَلْ جِنَانَكَ مَصِيْرِيْ وَاخْتِمِ بِاْلإِيْمَانِ اْلاجَالِ Wahai Tuhan, Engkau adalah Penolongku, maka pertemukanlah aku kepada setiap perlakuan baikku, jadikanlah surga Mu sebagai tempat kembaliku dan jadikanlah akhir hidupku dengan keimanan, وَصَلِّ فِي كُلِّ حَالَةٍ عَلَىمُزِيْلِ الضَّلاَ لَةِ مَنْ كَلْمَتْهُ الْغَزَالَةَ مُحَمَّدِ اهَادِيِ الدَّالِ Dan shalawat pada setiap keadaan Nya atas penghapus segala kebathilan (Muhammad saw) yang telah bersalamnya kepada seekor kijang, Muhammad (saw) pembawa hidayah dan petunjuk, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ شُكْرًا عَلَى نِعَمِ مِنْهُ تَتْرًى نَحْمَدُهُ سِرًّا وَجَهْرًا وَبِالْغَدَايَا وَاْلأَصَالِ Dan segala puji bagi Allah dan syukur atas nikmat nikmat Nya yang berlimpah, kami memuji Nya dalam hati dan dalam ucapan pada pagi dan sore.

Jumat, 31 Juli 2009

KOSONG

Bismillahirrahmannirrohiim............. Mengapa aku selalu mencarinya ke lain tempat, aku selalu mencari uang, mencari kekayaan, mencari wanita cantik, mencari ketenangan. ketempat yang seharusnya tidak aku datangi. Mengapa aku selalu bersusah payah memuatar otak, peras keringat banting tulang, tapi yang aku dapatkan tidak sesuai yang aku harapkan. Semakin aku mencari semakin aku jauh, semakin aku kosong tak berwarna. Bukankah Dia itu maha kaya, Maha Welas Asih, Maha Gagah yang maha memiliki ketampanan dan yang memiliki kecantikan bidadari yang ada di surga sekalipun? Yang memiliki tempat yang palig tenang, dan paling damai diantara ketenangan dan kedamaian itu? Aku harus kembali, aku tidak mau terus berjalan tetapi semakin aku menjauh. Aku ingin mendekat dan semakin dekat. Aku ingin kedimensi lain, tanpa batas ruang dan waktu. Melayang, merentangkan tangan dengan memejamkan mata. Menikmati perasaan damai dan ketenangan. Tanpa beban sebutir debupun yang melekat di sukmaku. Aku lepas, terbang melayang. Meninggalkan Bumi kecilku.

Minggu, 04 Januari 2009

Sebuah Lagu Untuk Adik

Dik Tersenyumlah, Walau Air Mata Membasahi Pipi, Lepaskanlah Semua Laramu Itu, Benamkanlah Bebanmu Itu di Pundakku, Dik Teruslah Melangkah, Bersama Sang Rembulan Malam, Bersama Bintang-Bintang Bercahaya, Yang Menerangi Sudut Gelapmu, Kau Bidadari Kecilku, Terluka Disaat Kau Bahagia, Kutimang Diri Kecilmu, Bersama Cahaya Masa Depan, Ku Rengkuh Dirimu Manja, Kubasuh Air Mata Perihmu, Kusirami Peluh Jiwamu, Dengan Kasih Tulus, Dik Masa Indahmu, Ada di Setiap Langkah Kecilmu, Meski Kau Tertatih Menapaki Jejak, Masa Depanmu Pasti Nyata,

Rabu, 08 Oktober 2008

BAPAKU

Aku ga tau apa yang harus di kata tentang sosok seorang laki-aki yang aku panggil bapa ini. Bagiku dia adalah pahlawan yang senantiasa menuntunku di dalam terangku, dan penerang di dalam gelapku. Pembawa pencerahan di setiap keruwetan, dan sosok yang misterius yang aku ga tau, tapi sosok yang tidak asing yang aku kenal. Dia mengerti tentang aku, yang aku sendiri tidak tau bahwa dia begitu memperhatikan dan mengerti tentang aku. Tak banyak yang aku tau tentang dia Bapaku, Bagiku untuk saat ini dia adalah laki-laki yang bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan dari sebuah keputusasaan. Wajahnya selalu di tutupi oleh wajah-wajah yang lain. Katanya selalu diikuti dengan sabda-sabda yang lain. Dia itu Bapaku yang menjadi naungan bagi sebuah keretakan MAHAKARYA RUMAH TANGGA yang telah terjalin selama puluhan tahun, dari peradaban yang terlampaui oleh langkah-langkah kaki yang bergetar tapi tak bersuara. Namun getarannya mampu merobek setiap perasaan yang tak tertuju pada keharusan mutlak. Dia itu bapaku yang diam namun dia itu air yang suatu saat bisa menjadi ombak di lautan.

Kamis, 25 September 2008

Bahtera

GO TO PLEASUREYOURPAGE.COMTak ada yang lebih bertanggung jawab di kehidupanku, kecuali diriku sendiri. Kini aku telah melangkah lebih jauh mengarungi samudra hidup dngan sebuah bahtera yang rapuh. Yang tidak ada penopang untuk mengembangkan layar. Hanya dua dayung yang aku punya. Tapi kenapa aku tiba-tiba saja sudah ada di tengah2 samudra yang membadai dengan bahtera yang rapuh itu. Apa yang aku akan lakukan jika bahtera itu hancur terkoyak ombak. Apakah aku harus kembali ke tepi? Ataukah aku harus menunggu puing2 yang berserakan dari tepian yang di bawa oleh ombak itu. Apakah aku bisa memperbaiki bahteraku ketika aku sudah berada di tengah2 samudra. Aku tak bisa kembali karena aku sudah tak berarah. Akan kemana ku kayuh bahteraku untuk mengarungi lautan kehidupanku. GO TO PLEASUREYOURPAGE.COMTapi aku tak mau hancur terkoyak di hantam badai yang mengamuk itu. Akankah segala perjuangan yang telah dan sedang di lakukan ini tidak akan berbuah manis? dimanakah keyakinanku yang dulu mendera dan membakar jiwa yang menjadi sabda langit. Aku hanya bisa melihat bintang untuk saat ini, yang menjadi penuntunku di kegelapan, hembusan angin yang akan membimbingku, purnama yang menerangiku, untuk ku kayuh bahteraku lebih jauh. Menuju Pulau surga yang aku impikan Bersama bidadari yang menemani perjalanan hidupku ini.GO TO PLEASUREYOURPAGE.COMYang akan melehirkan pangeran2 dan bidadari2 kecil yang padanya akan ada tanda kebahagiaan di pulau surga yang tempatnya di depan sana. Yang pondasinya di datangkan dari belakang2 sana yang sudah ku lalui di saat aku mengayuh dayungku untuk membawa bahteraku ini.

Shalawat Nariyah

GO TO PLEASUREYOURPAGE.COM اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك
Allohumma sholli ’sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil qurobu wa tuqdho bihil hawaaiju wa tunalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimu wa yustasqol ghomamu biwajhihil kariem wa ‘ala aalihi wa shohbihi fie kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lumin laka
Artinya : Ya Alloh berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuanMU

Kamis, 21 Agustus 2008

SEANDAINYA KAU SECANTIK WAJAHMU

Perasaan itu memang tidak salah. GO TO PLEASUREYOURPAGE.COMYang salah itu adalah orang yang menyalahgunakan perasaan itu. Bukankah alangkah sebaiknya jika perasaan itu berikan kepada orang telah di takdirkan dari semesta? Meskipun wajahnya buruk tapi hatinya mengeluarkan aura kecintaan dan kasih sayang yang tulus. Yang cahayanya melebihi kecantikkanmu. Ada apakah ini sebenarnya???????????????????
Tundukkanlah wajahmu di depan mereka yang bukan haknya. Yang bukan untuk kau jadikan derma di atas muka bumi ini. Menahan dera yang kau hinakan di wajah putra-putramu dan bidadari yang selalu menangis karena ulahmu. Redakanlah amarah kami dengan cinta tulusmu yang suci kepada yang punya haknya.
Jangan kau hiraukan perasaan itu, karena akan membawamu ke pintu kenistaan. Tersimpuhlah kau di depan yang berwajah buruk itu. Karena dialah hakmu yang harus kau dermakan di setiap sabda-sabda yang dia keluarkan. Dialah dewa dibmi ini bagimu. Janganlah kau sakiti di dengan kebohonganmu, jangan kau siksa dia dengan kelakuanmu. Karena kemurkaan akan segera mendatangimu.
Akua tak bisa berbuat Apa-apa. Akua tak banyak berbuat. Maafkan aku jika aku salah. Karena aku terlahir dari keluarga yang kurang mempunyai pamor. Aku yang butuh panutan ini tidak mau tersesat.
MAAFKANLAH AKU IBU.........karena aku akan bertindak!

Senin, 11 Agustus 2008

BOZANT

WALAUPUN BOZANT SPERTI SEDANG MATI SURI.
NAMUN AKAN SELALU TETAP BERKIBAR DI HATI BOZANTER.
BERJUANGLAH TERUS ANAK-ANAK BOZANT.
BERJUANGLAH TERUS UNTUK MENCAPAI MIMPI INDAHMU BERSAMA SAYAP-SAYAP MALAIKAT YANG MEMBAWAMU KE DUNIA MASA DEPAN.
JAYALAH SELALU BOZANT-KU

Jumat, 08 Agustus 2008

New New This

waduh baru ini hari lagi aku buka blog. setelah sekian lama aku tinggalkan karena alasan beberapa hal yang ga mungkibn untuk aku tinggalkan. kangen memang. tapi ya baru baru ini aja aku bisa lagi ngblog. aku selalu berharap ada komentar selalu di setiap apa yang aku tulis di blog ku ini. sebagai pembangun jiwa. dalam setiap melangkah dan apa yang aku langkahkan dihari kedepan. takdir dan hati nurani yang ingin selalu menuntunku. akal sehat yang menjadi obor dalam kegelapan malam kehidupan.

Selasa, 13 Mei 2008

CERMIN DIRI

Perjalana Jibril AS
Suatu riwayat menceritakan bahwasanya Malaikat Jibril AS di perintah oleh Allah SWT untuk bertanya kepada mahlukNya yang ada di bumi. Lalu Jibril AS menjalankan perintah itu.
Pertama kali yang ia datangi adalah seekor kerbau yang sedang bermandi dengan lumpur. Alangkah asyiknya sang kerbau berguling-guling berlumuran lumpur yang kotor. Kemdian datanglah Jibril AS bertanya pada sang kerbau. Hai kerbau berbahagiakah engkau yang hidup dengan mandi lumpur yang kotor. Aku berbahagia Allah SWT menciptakan aku dengan bermandikan lumpur. Dari pada aku di jadikan seekor kelelawar yang mandi dengan air kencingnya sendiri.
Kemudian Jibril AS pergi meninggalkan sang kerbau untuk menemui kelelawar. Hai kelelawar berbahagiakah engkau bahwa Allah SWT menjadikan engkau dengan mandi dari air kencingmu sendiri? Aku berbahagia Bahwa aku di jadikan Allah SWT dengan mandi air kencingku sendiri, dari pada aku di jadikan seekor cacing yang berjalan dengan tubuhnya.
Jibril AS pun berlalu dan menemui cacing yang kemudian dia bertanya. Wahai cacing berbahagiakah engkau Bahwa Allah menciptakan engkau dengan berjalan dengan tubuhmu? Aku berbahagia dari pada aku di jadikan oleh Allah SWT menjadi seorang Manusia yang tidak pandai bersyukur dan tidak beribadah kepada Allah SWT.
Aku jadi berfikir Aku ini masuk golongan manusia yang mana yang berbahagiakah atau orang-orang yang celaka karena tidak pandai bersyukur dan tidak beribadah kepada Allah SWT. Betapa Allah SWT menciptakan Mahluk itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tinggal kita bagaimana untuk menyikapi ciptaan Allah SWT itu. Termasuk aku sebagai manusia yang di katakan mahluk paling sempurna di antara mahluk-mahluk lainnya.

Kamis, 08 Mei 2008

KEJAMNYA BINTARO

Adikku Sayang Adikku Malang........................
Kau berjalan dengan langkah kaki yang tertatih. Kau lalui jalan setapak dengan derai air mata. Dengan napas yang penuh sesak dan dada yang bergemuruh mengapi di antara himpitan racun kehidupan yang kau hadapi.
Adikku harini, saat ini ingin ku peluk kau dengan erat seerat eratnya dan tak ingin aku lepaskan lagi. Karena aku tak rela dengan derita yang kau hadapi saat ini. Pasrahkanlah semuanya pada sang nasib. Biarlah Dia yang akan membalasnya. Membalas perlakuan Sang jahanam yang mengusirmu bak anjing pesakit. Yang melemparkan dan mencampakkanmu seperti sampah yang berbau busuk tak berguna.
Adikku aku serukan kepada mereka bahwa aku siap untuk PERANG. Kukepalkan tinjuku untuk menantangnya. Aku takkan gentar, takkan mundur walau selangkahpun. Karena aku tidak takut mati untuk membela keluargaku yang paling aku sayangi, yang paling aku cintai.
Dadaku menggemuruh sesak tak tertahankan, ingin MELEDAK. Biar ledakkannya membinasakan mereka yang menganiyaya hidupmu. Pedangku telah siap aku hunus. Air mataku kujadikan senjata yang paling mematikan. Rintihan hatiku kujadikan tameng yang kuatnya melebihi baja.
Tenanglah Adikku. Tenang. Tenanglah seperti karang. Bintang-bintang jadikanlah hiasan.